<-- "http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-transitional.dtd"> PELAYARAN TRADISIONAL ORANG BUTON DAN KEBIJAKAN POROS MARITIM INDONESIA | Tahara | Jurnal Masyarakat dan Budaya

PELAYARAN TRADISIONAL ORANG BUTON DAN KEBIJAKAN POROS MARITIM INDONESIA

Tasrifin Tahara

Abstract


Kelangsungan tradisi bahari orang Buton hingga kini merupakan kekuatan budaya yang penting dikaji, tidak hanya karena latar historisnya, tetapi juga dapat menjadi sumber nilai kehidupan bagi mereka dalam menata masa depannya. Tradisi ini telah melampaui berbagai zaman dan generasi, dengan segala tantangannya, telah mengukuhkan orang Buton sebagai suku bangsa bahari Indonesia, bersama dengan suku bangsa lainnya yakni Bajo, Bugis-Makassar, Mandar, dan Madura. Artikel ini membahas sistem dan dinamika pelayaran tradisional, jaringan pelayaran, perniagaan antarpulau yang dilakukan pelayar Buton yang masih bertahan hingga sekarang. Tulisan ini menarasikan kebudayaan pelayar pulau terdepan di Buton (Pulau Batuatas) dalam mempertahankan hidup dan tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun. Selain itu, harapan atas kebijakan Poros Maritim Indonesia yang digaungkan oleh Pemerintahan Jokowi-JK juga dielaborasi.


Maritime tradition of Buton people is a cultural strength, both for its historical background and live values for Buton people to manage their future. This tradition has existed for ages placing Buton people as an Indonesian maritime ethnic group, along with other ethnic groups, including Bajo, Bugis-Makassar, Mandar and Madura. This paper describes the system and the dynamic of traditional sailing, sailing network and interisland trade conducted by Buton sailors occurring until the recent days. It narrates the culture of the sailor in the forefront island of Buton (Batuatas island) in maintaining their lives and traditions that has existed for hundreds years. Moreover, it elaborates a hope of the maritime route policy currently promoted by Jokowi-JK government.

Keywords


pelayaran; tradisional; Poros Maritim Indonesia

Full Text:

PDF (Indonesian)

References


Abu Hamid. (1994). Pasompe. Ujung Pandang: Lephas Universitas Hasanuddin

Adhuri, Dedi Supriadi. (2015). (Re)Vitalitasasi Budaya Bahari Sebagai Fondasi Pengembangan Poros Maritim. Materi Kuliah Umum Program Pascasarjana Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, Aula Prof Syukur Abdullah FISIP Unhas tanggal 27 oktober 2015.

Ammarell, Gene. (2008). Navigasi Bugis. Makassar: Hasanuddin University Press

Chauvel, RH. (1990). Nationalists, Soldiers and Separatists: The Ambonese Islands from Colonialism to Revolt, 1880-1950.

Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde; 143. Leiden: KITLV Press.

Fox, J James. (2000). Maritime Communities in the Timor and Arafuru Region: Some Historical and Anthropological Perspectives. Canberra: ANU Press

Hamid, Abd Rahman. (2011). Orang Buton: Suku bangsa bahari Indonesia. Yogyakarta: Ombak.

Horridge, Adrian. (1986). Sailing Craft of Indonesia. Singapore: Oxford University Press.

La Malihu. (1998). “Buton dan Tradisi Maritim: Kajian Sejarah tentang Pelayaran Tradisional di Buton Timur (1957-1995)”. Tesis Magister belum diterbitkan. Jakarta: Universitas Indonesia.

Lapian, AB. (2009). Orang Laut – Bajak Laut – Raja Laut: Sejarah kawasan Laut Sulawesi Abad XIX. Jakarta: Komunitas Bambu.

Poelinggomang, Edward. (2002). Makassar Abad XIX. Studi Tentang Kebijakan Maritim. Jakarta: Kepustakaan Indonesia Popular.

Southon, Michael. (1995). The Navel of the Perahu: Meaning and Value in the Maritime Trading Economic of A Butonese Village. Canberra: Australian National University.

Tahara, Tasrifin. (2014). Melawan Stereotip: Etnografi, Reproduksi Identitas, Dinamika Masyarakat Katobengke Buton yang Terabaikan. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Tahara, Tasrifin, dkk. (2015). Sabangka Asarope; Tradisi Pelayaran di Wakatobi, Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, Kemedikbud RI.

Winn, Phillip. (2008) Butonese in the Banda Islands: Departure, Mobility, and Identification, in Horizon of Home: Nation, Gender, and Migrancy in island Southeast Asia, Edited by Penelope Graham, Monash Asia Institute, Clayton.

Zuhdi, Susanto. (1999). Labu Rope Labu Wana: Sejarah Butun Abad XVII-XVIII. Disertasi Program Doktor Ilmu Sejarah Pascasarjana FIB Universitas Indonesia, Depok.

Zuhdi, Susanto. (2002). ”Jejak Orang Butun dalam Sejarah Maritim Indonesia”. Makalah Seminar Eksplorasi Sumberdaya Budaya Maritim Indonesia, Kampus UI Depok-Jakarta, 6 Juni 2002.




DOI: http://dx.doi.org/10.14203/jmb.v18i3.568

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Indexed by

Jurnal Masyarakat dan Budaya

Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2KK-LIPI)
Research Center for Society and Culture - Indonesian Institute of Sciences
Widya Graha Lantai VI & IX
Jl. Jend. Gatot Subroto No.10 Jakarta Selatan
12710

  • ISSN 1410-4830 (print)
  • e-ISSN 2502-1966 (online)
  • Accreditation : No. 21/E/KPT/2018 (Kemenristekdikti)
  • Creative Commons License
    This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License