<-- "http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-transitional.dtd"> PENELITIAN ETNOGRAFI DIBALIK PENCEGAHAN KONFLIK DAN AFFIRMATIVE ACTION PERLINDUNGAN KEKAYAAN BUDAYA: Memahami Sebuah Hibriditas Kebudayaan | Humaedi | Jurnal Masyarakat dan Budaya

PENELITIAN ETNOGRAFI DIBALIK PENCEGAHAN KONFLIK DAN AFFIRMATIVE ACTION PERLINDUNGAN KEKAYAAN BUDAYA: Memahami Sebuah Hibriditas Kebudayaan

Muhammad Alie Humaedi

Abstract


Konflik suku dan agama menjadi isu hangat dunia penelitian. Beragam pendekatan digunakan untuk memotret masalah, aktor, dan penyebab yang bisa diuraikan untuk meredam konflik. Sayangnya, banyak penelitian yang hanya menampilkan aspek permukaan, sehingga penyelesaiannya bersifat artifisial dan tidak kontekstual. Aspek kebudayaan dan kebahasaan terkait konflik, dan menjadikannya sebagai modal terpenting dalam penyelesaian konflik kurang dilihat komperehensif. Di sisi lain, bahasa dan budaya daerah hanya dimaknai sebagai khazanah kebudayaan yang berorientasi pengembangan pariwisata saja. Belum ada upaya maksimal dalam mendorong budaya dan bahasa beserta proses hibriditasnya sebagai strategi terpenting mitigasi konflik. Penelitian yang mampu mengungkap nilai dan praktik kebudayaan berbagai kelompok sukubangsa belum banyak menjadi media langkah strategis itu. Pertanyaannya, bagaimana penelitian dan perspektif etnografi dapat berperan dalam upaya peredaman konflik dan affirmasi bagi upaya perlindungan kekayaan budaya daerah? Tulisan ini refleksi berbagai penelitian terkait bahasa dan budaya yang dilakukan LIPI dan lembaga lain. Keterlibatan penulis dalam dunia penelitian etnografi bahasa dan budaya menjadi aspek penting refleksinya. Penelitian ini telah menjelaskan perkembangan dan kecenderungan penelitian kebudayaan di LIPI dan lembaga lain. Selain itu, penelitian etnografi budaya dan bahasa tidak hanya berdampak pada upaya perlindungan kekayaan budaya berbagai sukubangsa, tetapi juga menjadi upaya strategis dalam peredaman konflik dan peneguhan kebangsaan. Tribal and religious conflicts are becoming a hot issue of the research world. Various approaches are used to describe problems, actors, and causes that can be deciphered to quell conflicts. Unfortunately, many studies show only surface aspects, so the solution is artificial and non-contextual. The cultural and linguistic aspects of the conflict, the most important capital in conflict resolution, are less than comprehensive. On the other hand, the local language and culture is only interpreted as a cultural treasure for tourism development only. There has been no maximum effort in encouraging culture and language along with its hybridity process as the most important strategy of conflict mitigation. Research which able to reveal the values and cultural practices of various ethnic groups has not been a major medium for the strategic paradigm. The question is, how can ethnographic research and perspectives play a role in the efforts to conflicts mitigation and affirmations for the protection of local cultural wealth? This paper reflects the various researches related to language and culture conducted by LIPI and other institutions. The involvement of writers in the world of ethnographic research of language and culture becomes an important aspect of his reflection. This writing explained the development and tendency of cultural research in LIPI and other institutions. In addition, cultural and linguistic ethnographic research viewed not only affects the protection of cultural wealth of various ethnic groups, but also a strategic effort in the reduction of conflict and affirmation of nationality.

Keywords


Etnografi; Mitigasi Konflik; Perlindungan Budaya; Hibriditas; Ethnography; Conflict Mitigation; Cultural Protection; Hybridity

Full Text:

PDF (Indonesian)

References


Austin, Peter K & Sallabank (Ed). (2011). The Cambridge Handbook for Endangered Languages. Cambridge: Cambridge University Press.

Crystal, David. (2000). Language Death. Australia: Cambridge University Press.

Firmansyah. (2014). Mengurai Konflik Lampung. Dalam Jurnal Politik. Vol. VI, edisi 1.

Fromkin, Victoria dan Rodman, Robert. (2003). An introduction to Language: Seventh Edition. USA: Thomson Wadsworth.

Gaffar, Afan. 2006. Politik Indonesia: Transisi Menuju Demokrasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Grimes, Charles E. dan Therik M.Th, Tom. (1997). A Guide to the People and Language of Nusa Tenggara. Kupang: Artha Wacana.

Haugen, Einar. (2001). “The Ecology of Language” dalam Alwin Fill & Peter Muhlhausler (Ed). The Ecolinguistics Reader: Language, Ecology and Environment. London and New York: Continuum.

Hisyam, Muhamad, dkk. (2011). Pemertahanan Bahasa Pagu. Jakarta: PMB LIPI & PT Gading Inti Prima

Hoed, Benny H. 2011. “Ekologi Bahasa, Revitalisasi Bahasa, Identitas dan Tantangan Global dalam Masyarakat Indonesia yang Multikutural.”ProsidingDiskusi Pengembangan dan Perlindungan Bahasa-Kebudayaan Etnik Minoritas untuk Penguatan Bangsa” pada tanggal 15 Desember. Jakarta: LIPI.

Humaedi, M. Alie. (2013). “Ekpresi Kebudayaan Masyarakat Penutur Bahasa Kafoa di Habollat Alor Barat Daya.” M. Alie Humaedi (ed). Mereka yang Melupakan Mutiaranya: Dari Studi Ekologi ke Pemertahanan Bahasa Kafoa di Alor, NTT. Jakarta: LIPI Press.

-----------. (2013). “Memaknai Wasiat (Woum) sebagai Kearifan Budaya Kafoa” dalam Jurnal Sejarah dan Nilai Tradisional, BSNT Bali dan Nusa Tenggara, Vol. XI, No. 1, Maret.

-----------. (2014), dkk. Mekanisme Internal Pelestarian Bahasa & Budaya Kafoa. Jakarta: LIPI Press.

-----------. (2015). “Antara Yang Lemah dan Mereka yang Berani: Assesment Penyebab Konflik Balinuraga Lampung”. Jakarta: Humanitarian Forum Indonesia dan UNOCHA.

-----------. (2017). Etnografi Pengobatan: Sejarah dan Falsafah Pengobatan Masyarakat Adat Tau Taa Vana. Yogyakarta: LKiS.

Klinken, Gerry van. 2007. Perang Kota Kecil. Jakarta: KITLV-Yayasan Obor Indonesia

Koentjaraningrat. (1985).Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara.

Lauder, Multamia RMT. (2011). “Pengelolaan dan Pemberdayaan Bahasa yang Berpotensi Terancam Punah.” Prosiding Seminar Pengembangan dan Perlindungan Bahasa-Kebudayaan Etnik Minoritas untuk Penguatan Bangsa.15 Desember. Jakarta: LIPI.

Liliweri. (2008). Prasangka dan Konflik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Meyerhoff, Miriam. (2006). Introducing Sociolinguistics. NY: Routledge.

Patji, Abdul Rachman. (2013). ”Migrasi Masyarakat Kafoa di Moru, Kalabahi, dan Kupang”. M. Alie Humaedi (ed.). Mereka yang Melupakan Mutiaranya: Dari Studi Ekologi ke Pemertahanan Bahasa Kafoa di Alor, NTT. Jakarta: LIPI Press

Patji, Abdul Rachman (2012). Bahasa dan Kebudayaan Etnik Minoritas: Vitalitas dan Kemungkinan Pemertahanannya (Policy Paper). Jakarta: PMB, IPSK, LIPI

----------. (2014). Bahasa, Kebudayaan, & Pandangan tentang Kebahasaan Masyarakat Etnik (Lokal) Kafoa di Alor Nusa Tenggara Timur. Jakarta: LIPI Press

Sallabank, Julia. (2011). “Language Policy for Endangered Languages”, dalam Peter K. Austin & Sallabank (Ed)., The Cambridge Handbook for Endangered Languages. Cambridge: Cambridge University Press.

Sapir, Edward. (2001). “Language and Environment” dalam Alwin Fill & Peter Muhlhausler (Ed). The Ecolinguistics Reader: Language, Ecology and Environment. London and New York: Continuum.

Schiffman, Harold. (2006). “Language Policy and Linguistic Culture”., dalam Thomas Ricento (Ed). An Introduction to Language Policy, Theory and Method. Malden, Oxford, Carlton: Blackwill Publishing Ltd.

Setara Institute. (2012). Akar Konflik dan Upaya Peredamannya: Sebuah Kaleidoskop Tahunan. Jakarta: Setara Institute

Masnun, Leolita dan Soewarsono. (2013). Revitalisasi Budaya & Bahasa Oirata di Pulau Kisar, Maluku Barat Daya, Maluku. Jakarta: PMB LIPI & PT Gading Inti Prima

Sudiyono. (2013). ”Penguasaan Ranah Penggunaan dan Transmisi Bahasa”. M. Alie Humaedi (ed.). Mereka yang Melupakan Mutiaranya: Dari Studi Ekologi ke Pemertahanan Bahasa Kafoa di Alor, NTT. Jakarta: LIPI Press.

-----------. (2015). “Beilel: Sejarah Kepunahan Suatu Sukubangsa”. Dalam Jurnal Masyarakat dan Budaya. Vol. XVII, No. 3. Jakarta: PMB LIPI.

Sukmawati, Anggy Denok. (2016). “Sistem Kekerabatan Bahasa Dayak Sontas”. Laporan Penelitian. Jakarta: PMB LIPI.

Tomagola, Thamrin Amal. (2006). “Mengurai Konflik Tidak Berkesudahan” dalam Opini Kompas, 12 Desember.

Turangan, Lyli, Willyanto, dan Reza Fadhilla. 2014. Seni Budaya dan Warisan Indonesia Jilid 8 Bahasa dan Sastra. Jakarta: PT Aku Bisa.

Wahid Institute. (2014). Membaca Akar Kekerasan di Indonesia. Laporan Tahunan. Jakarta: Wahid Institute.

Wakano, Abidin. (2007). Ambon: Kontestasi Sukubangsa Atas Nama Agama. Sebuah Laporan Ringkas. Jakarta: Laporan Ornop.

Widhyasmaramurti. (2013). “Kafoa sebagai Identitas Bangsa”. M. Alie Humaedi (ed.). Mereka yang Melupakan Mutiaranya: Dari Studi Ekologi ke Pemertahanan Bahasa Kafoa di Alor, NTT. Jakarta: LIPI Press.




DOI: http://dx.doi.org/10.14203/jmb.v19i3.544

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Indexed by

Jurnal Masyarakat dan Budaya

Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2KK-LIPI)
Research Center for Society and Culture - Indonesian Institute of Sciences
Widya Graha Lantai VI & IX
Jl. Jend. Gatot Subroto No.10 Jakarta Selatan
12710

  • ISSN 1410-4830 (print)
  • e-ISSN 2502-1966 (online)
  • Accreditation : No. 21/E/KPT/2018 (Kemenristekdikti)
  • Creative Commons License
    This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License