<-- "http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-transitional.dtd"> Menancapkan Tiang-Tiang “Kayu Besi”: Adat dan Strategi Para Elit di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat | Suryawan | Jurnal Masyarakat dan Budaya

Menancapkan Tiang-Tiang “Kayu Besi”: Adat dan Strategi Para Elit di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat

I Ngurah Suryawan

Abstract


Memperkuat adat bisa bermata dua jika hanya terfokus pada romantisasi “ideologi harmoni” tanpa memeriksa relasi produksi dan kelas dalam masyarakat adat kontemporer. Merespon kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh negara dan investasi, gerakan masyarakat adat di Tanah Papua harus mampu merefleksikan diri dalam hubungan dengan perubahan di internal diri mereka merespon perubahan yang diangkut oleh pembangunan dan investasi. Hanya dengan memahami konteks inilah masyarakat adat di Papua akan mampu untuk mengambil langkah-langkah aksi dalam menegakkan martabatnya.

Keywords


masyarakat adat; Papua; Strtegi pemertahanan adat

Full Text:

PDF (Indonesian)

References


Broek OFM, Drs. Theo van den. 2002 Mengatasi Keterpecahan yang Melumpuhkan, Jayapura: SKP Keuskupan Jayapura dan LSPP Jakarta, 2002.

Darmanto, 2015. “Kapitalisasi Pedalaman dan Praktik Politik Etnografi” dalam Jurnal Bhumi, Jurnal Agraria dan Pertanahan, Vol. I, Nomor I, Mei 2015.

Giay, Benny. 1996. “Pembangunan Irian Jaya dalam Perspektif Agama, Budaya, dan Antropologi” makalah dalam Simposium Masyarakat dan Pembangunan di daerah Irian Jaya yang dilaksanakan BPC GMKI Jayapura.

Henley, David, Jamie Davidson dan Sandra Moniaga (editor). 2010. Adat dalam Politik Indonesia, Jakarta: KITLV Jakarta dan Yayasan Obor Indonesia.

Hernawan OFM, J. Budi. 2004. “Menuju ke Kota (C)emas” makalah dalam Temu Adat Masyarakat Teluk Bintuni 2004, Babo, 24-29 November 2004. Sekretariat Keadilan dan Perdamaian, Keuskupan Jayapura, November 2004.

Laksono, P.M. 2002. “Tanpa Tanah, Budaya Nir-Papan, Antropologi Antah Berantah” dalam Lounela, Anu dan R. Yando Zakaria (editor). (2002). Berebut Tanah: Beberapa Kajian Berperspektif Kampus dan Kampung, Yogyakarta: Insist, Jurnal Antropologi Indonesia dan Karsa.

Laksono, P.M. 2009. “Peta Jalan Antropologi Indonesia Abad Kedua Puluh Satu: Memahami Invisibilitas (Budaya) di Era Globalisasi Kapital”. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 27 Oktober 2009.

Lounela, Anu dan R. Yando Zakaria (editor). 2002. Berebut Tanah: Beberapa Kajian Berperspektif Kampus dan Kampung, Yogyakarta: Insist, Jurnal Antropologi Indonesia dan Karsa.

Li, Tania, 2010. “Adat di Sulawesi Tengah: Penerapan Kontemporer” dalam Jamie Davidson, David Henley, dan Sandra Moniaga (ed), Adat dalam Politik Indonesia. Jakarta: KITLV Jakarta dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2010.

Ramstedt, Martin dan Fadjar Ibnu Thufail (editor). 2011. Kegalauan Identitas: Agama, Etnisitas, dan Kewarganegaraan pada masa Pasca-Orde Baru, Jakarta: PSDR LIPI, Max Planck Institute for Social Anthropology dan Grasindo.

Sangaji, Arianto. 2012. “Masyarakat Adat, Kelas, dan Kuasa Eksklusi”, Kompas, 21 Juni 2012.

Scott, James C. 1995. State Simplifications, Some Applications to Southeast Asia. Amsterdam: CASA.

Tsing, A.L. 2005. Friction: An Ethnography of Global Connection. Princeton and Oxford: Princeton University Press.




DOI: http://dx.doi.org/10.14203/jmb.v20i3.644

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Indexed by

Jurnal Masyarakat dan Budaya

Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2KK-LIPI)
Research Center for Society and Culture - Indonesian Institute of Sciences
Widya Graha Lantai VI & IX
Jl. Jend. Gatot Subroto No.10 Jakarta Selatan
12710

  • ISSN 1410-4830 (print)
  • e-ISSN 2502-1966 (online)
  • Accreditation : No. 21/E/KPT/2018 (Kemenristekdikti)
  • Creative Commons License
    This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License