<-- "http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-transitional.dtd"> TULUDE: ANTARA MODERNITAS DAN TRADISI MASYARAKAT PULAU MARORE | Ekawati | Jurnal Masyarakat dan Budaya

TULUDE: ANTARA MODERNITAS DAN TRADISI MASYARAKAT PULAU MARORE

Esty Ekawati

Abstract


Pulau-pulau kecil terluar di Indonesia merupakan wilayah yang rentan dalam menghadapi hambatan dan tantangan yang berasal dari internal maupun eksternal. Perlu perlakuan khusus bagi wilayah tersebut terutama yang berbatasan dengan negara lain. Pulau Marore menjadi salah satu Pulau kecil terluar di sisi Utara Indonesia yang berbatasan langsung dengan Filipina. Sebagai pintu gerbang aktivitas tradisional dan internasional, Pulau Marore tak luput dari terpaan arus globalisasi. Tulisan ini mengkaji mengenai ketahanan sosial budaya masyarakat perbatasan di Pulau Marore yang dilihat dari kemampuan masyarakat menghadapi hambatan/tantangan secara internal dan eksternal. Pengumpulan data dilakukan dengan studi lapangan dan wawancara dengan masyarakat Marore. Temuan lapangan menunjukkan bahwa ketahanan sosial masyarakat Marore terbilang rentan karena memiliki keterbatasan dalam penguasaan modal alam, infrastruktur, sumber daya manusia dan perekonomian. Akan tetapi, ketahanan budaya masyarakat Marore tetap terjaga melalui suatu tradisi leluhur yang hingga kini masih dipegang teguh oleh masyarakat Sangir yakni tradisi tulude. The outermost small islands in Indonesia face an internal or external obstacles and challenges. Special treatment is needed for the islands bordering with other country. Marore Island became one of the outermost small island in the North side of Indonesia, which is directly adjacent to the Philippines. As the gates of traditional and international activities, Marore Island did not escape the onslaught of globalization. This article examines the social and cultural resilience in the border of Marore Island, seen from the ability of people facing barriers/challenges internally and externally. Data was conducted with field observation and in-depth interviews. The result show that despite Marore society has limitations in infrastructure, socio-economic, and human resources, Marore's cultural resilience is maintained through an ancestral tradition which is still firmly held by the Sangir community, namely “Tulude” tradition.

Keywords


Pulau Marore; Perbatasan; Ketahanan Sosial Budaya; Tulude; Marore Island; boundary; cultural resilience; Tulude

Full Text:

PDF (Indonesian)

References


Adger, W.N. “Social And Ecological Resilience: Are They Related?” Progress in Human Geography 24, no. 3 (2000): 347–64. crossref

Al-Rodhan, Nayef R.F. Definitions of Globalization: A Comprehensive Overview and a Proposed Definition. Geneva Centre for Security Policy, 2006.

Bunting, Stuart W. Principles of Sustainable Aquaculture Promoting Social, Economic and Environmental Resilience. London and New York: Routledge, 2013. crossref

Giddens, Anthony. The Consequencies of Modernity. UK: Polity Press, 1990.

Kebijakan Pelestarian Dan Pengembangan Kebudayaan. Jakarta: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, 2004.

Keck, Markus, and Patrick Sakdapolrak. “What Is Social Resilience? Lessons Learned and Ways Forward.” Erdkunde 67, no. 1 (2013): 5–19. doi:10.3112/erdkunde.2013.01.02. crossref

“Kepulauan Marore Dalam Angka 2015.” Kabupaten Kepulauan Sangihe, 2015.

Kristianto, Adi Budi. “Transignifikansi (Perubahan Makna) Kue Tamo Dalam Upacara Tulude: Suatu Upaya Inkulturasi Liturgi Atas Budaya Sangir,” n.d. http://www.academia.edu/9145093/Transignifikasi_Kue_Tamo_dalam_Upacara_Tulude.

Kristoferson, L., P. O’Keefe, and J. Soussan. “Energy In Small Island Economies.” Ambio 14, no. 4–5 (1985): 242–44.

Retnowati, Endang, ed. Ketahanan Budaya Dan Globalisasi Di Indonesia: Studi Kasus Industri Makanan Dari Negara Industri Maju Di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Jakarta: LIPI Press, 2007.

Smyntyna, Olena. “Cultural Resilience Theory As An Instrument Of Modeling Human Response To Global Climate Change. A Case Study In The North-Western Black Sea Region On The Pleistocene-Holocene Boundary.” RIPARIA 2 (2016): 1–20. crossref

Soeratin, Aat, ed. Tepian Tanah Air, 92 Pulau Terdepan Indonesia ; Indonesia Bagian Tengah. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2011.

Wahyono, Ary Dkk. Kontribusi Nelayan Kecil Dalam Ketahanan Pangan Ikan Di Masyarakat Pesisir. Jakarta: PT Gading Inti Prima, 2016.




DOI: http://dx.doi.org/10.14203/jmb.v19i3.489

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Indexed by

Jurnal Masyarakat dan Budaya

Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2KK-LIPI)
Research Center for Society and Culture - Indonesian Institute of Sciences
Widya Graha Lantai VI & IX
Jl. Jend. Gatot Subroto No.10 Jakarta Selatan
12710

  • ISSN 1410-4830 (print)
  • e-ISSN 2502-1966 (online)
  • Accreditation : No. 21/E/KPT/2018 (Kemenristekdikti)
  • Creative Commons License
    This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License