<-- "http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-transitional.dtd"> FUNGSI SIMBOLIK PERAYAAN ERAU DI TENGGARONG (KAJIAN SEMIOTIKA) | Janah | Jurnal Masyarakat dan Budaya

FUNGSI SIMBOLIK PERAYAAN ERAU DI TENGGARONG (KAJIAN SEMIOTIKA)

Ulum Janah

Abstract


Penelitian “Fungsi Simbolik Perayaan Erau di Tenggarong” merupakan penelitian lapangan. Objek penelitian ini adalah Perayaan Erau. Erau menunjukkan identitas masyarakat dan menunjukkan rasa persatuan di wilayah Kutai melalui fungsi simbolis perayaan tersebut. Untuk menganalisis prosesnya, penelitian ini menggunakan pendekatan semiotik milik Peirce. Hasilnya menunjukkan kegiatan dalam perayaan Erau di Tenggarong memiliki makna simbolis bagi masyarakat pemilik adat untuk mengkonfirmasi identitasnya. Selain itu, simbol juga berfungsi sebagai bentuk ekspresif, kreatif, psikologi, dan sosial bagi masyarakat adat maupun masyarakat umum di Tenggarong. Simbol tersebut menggambarkan orang pertama dan pemimpin di Kutai yang memiliki struktur berupa elemen-elemen yang saling terkait antara pemilik adat, dalam hal ini dari pihak kesultanan dan masyarakat sekitar. The "Functions of Symbolic Celebration Erau in Tenggarong" is the result of a field research. The object of this study are Erau Celebration. The Erau shows communities identity and demonstrate a sense of Unity in Kutai region through the symbolic function of the celebration. To analyse the process, this paper used semiotic approach by Peirce. The results indicate that the activities in Erau Celebration in Tenggarong have a symbollic meaning for the people of indigenous owners to confirm his identity. In addition, the symbols also have functioned as expressive, creative, psychology, and social forms for indigenous peoples as well as general public in Tenggarong. The symbol draws the first person and the leader of Kutai and their interrelated structural element and interdependency between indigenous owners, in this case from the sultanate and the surrounding communities.

Keywords


Erau; simbol; semiotik Peirce; fungsi

Full Text:

PDF (Indonesian)

References


Badcock, C. R. (2008). Levi-Strauss Strukturalisme dan Teori Sosiologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Eliade, M. (2002). Mitos:Gerak Kembali yang Abadi. Yogyakarta: Ikon Teralitera.

Freud, S. (2001). Totem and Taboo. London: Routledge.

Ismail. (1990). Burong. Jakarta: Erlangga.

Janah, U. (2016). Beluluh Sultan;Ritual Sakral Pada Pelaksanaan Erau. yogyakarta: Sibuku Media.

Kutai, P. D. (2003). Dari Swapraja ke Kabupaten Kutai. Tenggarong, Kalimantan Timur: Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai.

Peirce, C. S. (1931). Collected Papers of Charles Sanders Peirce. (C. Hartshorne, & P. Weiss, Penyunt.) Amerika Serikat: Cambridge Harvard University Press.

Ratna, N. K. (2011). Antropologi Sastra: Peranan Unsur-Unsur Kebudayaan dalam Proses Kreatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sayekti, S. (2010). Silsilah Kutai Kartanegara Eyang Martadipura. Jakarta: Pusat Bahasa Kemendikbud.




DOI: http://dx.doi.org/10.14203/jmb.v19i2.439

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Indexed by

Jurnal Masyarakat dan Budaya

Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2KK-LIPI)
Research Center for Society and Culture - Indonesian Institute of Sciences
Widya Graha Lantai VI & IX
Jl. Jend. Gatot Subroto No.10 Jakarta Selatan
12710

  • ISSN 1410-4830 (print)
  • e-ISSN 2502-1966 (online)
  • Accreditation : No. 21/E/KPT/2018 (Kemenristekdikti)
  • Creative Commons License
    This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License